Gedung Manggala Wanabakti Blok IV Lt. 4, Jakarta Pusat

Kementerian Kehutanan Lanjutkan Modifikasi Cuaca di Sumatera Selatan, Jarak Pandang Palembang Membaik

Gakkum Kehutanan Kementerian Kehutanan Lanjutkan Modifikasi Cuaca di Sumatera Selatan, Jarak Pandang Palembang Membaik
Dokumentasi Penindakan Gakkum Kehutanan
Kementerian Kehutanan bersama BMKG dan TNI melanjutkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menggunakan dry ice di Sumatera Selatan pada 16–25 Oktober 2026 untuk membantu mengurangi konsentrasi asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Memasuki hari kedua operasi, jarak pandang di Palembang menunjukkan perbaikan berdasarkan pemantauan Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, sementara penanganan karhutla tetap dilakukan secara terpadu melalui pemadaman darat, operasi udara, OMC, dan penegakan hukum.

Dengarkan Berita ini

Status: Siap

Kementerian Kehutanan Lanjutkan Modifikasi Cuaca di Sumatera Selatan, Jarak Pandang Palembang Membaik

Palembang, 17 Oktober 2026 – Kementerian Kehutanan bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Tentara Nasional Indonesia (TNI) melanjutkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menggunakan dry ice di Sumatera Selatan untuk membantu mengurangi konsentrasi asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Memasuki hari kedua operasi, kondisi jarak pandang di Palembang menunjukkan perbaikan berdasarkan pemantauan Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera. Kondisi tersebut turut mendukung pelaksanaan operasi Satgas Udara dalam penanganan karhutla.

Operasi Modifikasi Cuaca Berlangsung Selama 10 Hari

OMC dilaksanakan selama 10 hari, mulai 16 hingga 25 Oktober 2026. Penggunaan dry ice diarahkan untuk membantu melemahkan lapisan inversi atmosfer yang membuat asap tertahan dan menumpuk di dekat permukaan.

Lapisan inversi terjadi ketika udara yang lebih hangat berada di atas udara yang lebih dingin di dekat permukaan. Kondisi ini menghambat pergerakan udara ke atas sehingga asap dan polutan terperangkap di lapisan bawah atmosfer.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan, Thomas Nifinluri, menjelaskan bahwa penggunaan dry ice dalam OMC kali ini secara khusus diarahkan untuk memengaruhi kondisi suhu atmosfer dan membantu mengganggu kestabilan lapisan inversi.

“Dalam kondisi tertentu, asap karhutla dapat terperangkap di dekat permukaan akibat lapisan inversi. Melalui OMC menggunakan dry ice, kami mencoba memengaruhi kondisi atmosfer agar lapisan tersebut melemah dan pergerakan udara menjadi lebih baik. Dengan demikian, konsentrasi asap di dekat permukaan diharapkan dapat berkurang,” ujar Thomas.

Jarak Pandang Palembang Menunjukkan Perbaikan

Pada hari pertama operasi, satu sortie penerbangan dilakukan dengan menyemai 800 kilogram dry ice di sekitar wilayah Palembang. Memasuki hari kedua, operasi dilanjutkan dengan rencana dua sortie penerbangan yang pelaksanaannya tetap menyesuaikan kondisi cuaca dan perkembangan atmosfer.

Berdasarkan pemantauan, kondisi jarak pandang di Palembang pada Sabtu pagi menunjukkan perbaikan dibandingkan kondisi sebelumnya. Perbaikan jarak pandang tersebut membantu pelaksanaan operasi Satgas Udara. Namun, perkembangan ini masih terus dipantau dan dievaluasi bersama kondisi atmosfer selama pelaksanaan OMC.

Penggunaan Bahan Semai Disesuaikan dengan Kondisi Atmosfer

OMC dilaksanakan secara adaptif mengikuti dinamika atmosfer. Apabila lapisan inversi mulai menipis dan terdapat potensi pertumbuhan awan hujan, operasi dapat dikombinasikan dengan penyemaian garam (NaCl) untuk mendukung pembentukan hujan. Penentuan bahan semai dan pelaksanaan penerbangan disesuaikan dengan kondisi atmosfer yang berkembang.

Thomas menjelaskan bahwa pelaksanaan operasi tidak menggunakan satu pendekatan untuk seluruh kondisi atmosfer.

“Operasi ini tidak menggunakan satu pendekatan untuk semua kondisi. Ketika lapisan inversi masih kuat, dry ice digunakan untuk membantu mengganggu kestabilan lapisan tersebut. Apabila kondisi atmosfer mendukung pertumbuhan awan hujan, penyemaian dapat dikombinasikan dengan NaCl. Setiap penerbangan disesuaikan dengan hasil pemantauan dan perkembangan cuaca,” lanjut Thomas.

Penanganan Karhutla Dilakukan Secara Terpadu

Penanganan karhutla di Sumatera Selatan dilakukan secara terpadu. Satgas Darat, termasuk Manggala Agni, terus melakukan pemadaman untuk mengendalikan sumber api dan asap di lokasi kebakaran. Satgas Udara mendukung penanganan dari udara, sementara OMC menjadi salah satu langkah pendukung untuk merespons kondisi atmosfer dan membantu mengurangi dampak asap.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, menegaskan bahwa penanganan karhutla harus memperhitungkan dampak yang saat ini dirasakan masyarakat.

“Kami memahami bahwa asap karhutla sangat mengganggu masyarakat, mulai dari kualitas udara, kesehatan, kegiatan belajar, transportasi, hingga aktivitas sehari-hari. Karena itu, seluruh instrumen harus bekerja. Satgas Darat terus mengendalikan api di lapangan, Satgas Udara mendukung penanganan dari udara, OMC dilakukan untuk membantu mengurangi dampak asap, dan penegakan hukum terus berjalan terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya karhutla. Semua berjalan pada porsinya masing-masing dan saling mendukung. Kami tidak ingin mendahului hasil. Yang terpenting saat ini adalah kebakaran dapat segera dikendalikan dan dampak yang dirasakan masyarakat berkurang,” tegas Januanto.

Pemantauan dan Evaluasi Terus Dilakukan

Kementerian Kehutanan bersama BMKG, TNI, pemerintah daerah, dan para pihak terkait terus melakukan penanganan karhutla di Sumatera Selatan secara terpadu. Pencegahan dan pemadaman di lapangan tetap menjadi upaya utama untuk mengendalikan sumber kebakaran, didukung operasi udara dan OMC sesuai kondisi atmosfer.

Perkembangan kondisi kebakaran, jarak pandang, kualitas udara, dan dinamika atmosfer terus dipantau sebagai dasar evaluasi dan penentuan langkah penanganan berikutnya.

Bagikan
Kembali ke Daftar