Kebakaran Hutan di Taman Nasional Gunung Rinjani Padam Total, Pengawasan Pascakejadian Diperkuat
Mataram, 7 Juni 2026. Kementerian Kehutanan melalui Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa Bali Nusa Tenggara (Balai Dalkarhut Jabalnusra), Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, memperkuat operasi pemadaman kebakaran hutan (karhut) di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Penanganan hari ke-3 difokuskan di Savana Propok, Resort Aik Mel, SPTN II Balai TN Gunung Rinjani, dengan luasan kebakaran tercatat 98,28 hektare. Hingga Kamis siang, api dinyatakan padam total, tidak terpantau asap, dan hotspot pada Sipongi nihil untuk wilayah Pulau Lombok.
TN Gunung Rinjani merupakan ikon wisata alam, dan bentang Rinjani–Lombok berstatus Rinjani–Lombok UNESCO Global Geopark. Nilai kawasan ini bukan hanya ekologi, tetapi juga reputasi pariwisata serta ekonomi masyarakat, sehingga pemadaman tuntas dan pemantauan pasca kejadian menjadi perhatian serius.
Kondisi Kebakaran dan Penanganan di Lapangan
Kebakaran terjadi pada vegetasi semak belukar dan savana dengan tipe kebakaran permukaan (membakar bahan di atas tanah) di tanah mineral pada fungsi kawasan taman nasional. Penanganan dilakukan melalui kerja gabungan Balai Dalkarhut Jabalnusra, Balai TNGR, unsur Manggala Agni (pasukan pemadam karhutla Kemenhut), dukungan MPA/masyarakat setempat, serta aparat kewilayahan (Bhabinkamtibmas dan Babinsa Desa Bebidas, Kec. Wanasaba, Kab. Lombok Timur).
Peralatan yang digunakan meliputi gepyok, jet shooter, dan garu, dengan dukungan sumber air dari mata air terdekat.
Kronologi Kejadian hingga Api Padam Total
Secara kronologis, titik api terdeteksi pada Selasa, 2 Juni 2026 sekitar pukul 11.00 WITA di Savana Propok dan kemudian menyebar. Kelompok pengelola savana bersama masyarakat melakukan pemadaman awal, namun terkendala keterbatasan personel dan logistik serta kondisi malam. Setelah menerima informasi dari Balai TNGR, tim Balai Dalkarhut Jabalnusra bergerak menuju lokasi pada malam hari dan melanjutkan penanganan bersama tim gabungan pada hari berikutnya.
Setelah api padam, tim melakukan penyisiran dan pendinginan untuk memastikan tidak ada bara tersisa dan mencegah nyala ulang, lalu melakukan pengukuran luasan. Pada Kamis, 4 Juni 2026 pukul 12.40 WITA, kebakaran dinyatakan padam total dan pemantauan dilanjutkan untuk memastikan kondisi benar-benar aman.
Fokus Pemulihan dan Pencegahan Kebakaran Berulang
Kepala Balai TN Gunung Rinjani, Budhy Kurniawan, menegaskan fokus pengelola kawasan setelah api padam adalah memastikan tapak benar-benar aman dan mencegah kejadian berulang. “Fokus kami setelah api padam adalah memastikan kawasan benar-benar aman, termasuk pengaturan aktivitas pengunjung di sekitar savana dan patroli pascakejadian. Savana adalah bagian penting ekosistem Rinjani dan juga ruang wisata, jadi pemulihan tapak dan pencegahan kejadian berulang menjadi prioritas. Kami mengapresiasi kerja cepat Balai Dalkarhut Wilayah Jabalnusra, Manggala Agni, MPA, aparat kewilayahan, serta masyarakat yang membantu di lapangan. Ke depan, kami meningkatkan patroli dan pengawasan di titik-titik rawan untuk mencegah kebakaran terulang. Kami mengimbau pengunjung dan masyarakat disiplin terhadap larangan sumber api dan segera melapor jika melihat tanda kebakaran,” ujarnya.
Kepala Balai Dalkarhut Jabalnusra, Bambang Setyo Antoko, menegaskan kerja pemadaman di kawasan seperti Rinjani bukan hanya soal mematikan api, tetapi menjaga nilai kawasan yang besar. “Rinjani adalah wajah wisata alam kita. Ada wisatawan, ada ekonomi yang bergerak, dan citra kawasan ikut dipertaruhkan, termasuk di mata wisatawan mancanegara. Karena itu kami memastikan pemadaman benar-benar tuntas. Setelah api padam, tim melakukan penyisiran dan pendinginan untuk memastikan tidak ada bara tersisa. Kami juga memantau potensi titik panas secara berkala melalui Sipongi, sistem pemantauan hotspot nasional, untuk memastikan tidak ada hotspot baru dan api tidak muncul kembali,” tegas Bambang.
Apresiasi Kolaborasi dan Imbauan Kewaspadaan
Bambang menambahkan, keterlibatan unsur lapangan menjadi kunci. “Kami mengapresiasi dukungan unsur Manggala Agni, MPA/masyarakat, TNGR dan pengelola savana, aparat kewilayahan serta semua pihak yang membantu di tapak. Pencegahan tetap yang utama. Kami mengimbau semua pihak untuk disiplin menghindari sumber api, terutama di kawasan savana yang mudah terbakar, dan segera menyampaikan informasi jika melihat tanda kebakaran sejak awal,” ujarnya.
Kementerian Kehutanan mengajak pemerintah daerah, pelaku wisata, kelompok masyarakat, dan warga untuk memperkuat kewaspadaan bersama pada periode rawan kebakaran hutan dan lahan. Pencegahan sejak dini akan membuat penanganan lebih cepat, melindungi ekosistem kawasan taman nasional, serta menjaga keselamatan masyarakat dan petugas di lapangan.






