Kemenhut Intensifkan Pengendalian Karhutla di Riau
PEKANBARU, 26 MARET Kemenhut 2026 – Sesuai arahan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melalui Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan terus mengintensifkan upaya Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhutla) di Provinsi Riau. Langkah ini diambil menyusul peningkatan luas area terbakar serta kondisi cuaca kering ekstrem yang menempatkan seluruh wilayah Riau dalam status Sangat Mudah mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dirjen Gakkum Kehutanan,Dwi Januanto Nugroho, menyatakan bahwa pihaknya dalam semangat kerja kolaboratif bersama-sama dengan BNPB, BMKG, POLRI, TNI, Pemerintah Provinsi Riau dan masyarakat serta pihak swasta terus berupaya melakukan langkah pengendalian karhutla demi menjaga langit Riau tetap biru. Giat operasi darat maupun udara juga terus diintensifkan guna menjaga kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Pemantauan Titik Panas dan Luas Karhutla
Untuk deteksi dini, Kementerian Kehutanan melakukan pemantauan titik panas melalui berbagai jenis satelit (Terra, Aqua, SNPP, dan NOAA20). Berdasarkan pantauan Satelit Terra/Aqua (NASA) dengan confident level high periode 1 Januari hingga 26 Maret 2026, tercatat sebanyak 625 titik panas di seluruh Indonesia dan 42,56%(266 titik) berada di Provinsi Riau.
"Luas karhutla di Riau periode Januari hingga Februari 2026 telah mencapai 4.440,21 Ha, dan angka ini terus meningkat seiring kondisi cuaca yang rentan. Hingga saat ini, regu gabungan telah berhasil melakukan pemadaman darat sebanyak 265 operasi di beberapa titik," ujar Dwi Januanto Nugroho.
Mobilisasi Personel dan Lokasi Pemadaman
Untuk mengatasi tantangan di lapangan, Kemenhut telah memobilisasi sebanyak 387 personel gabungan. Kekuatan utama berasal dari Manggala Agni Balai Dalkarhutla Sumatera yang tersebar di Daops Pekanbaru, Dumai, Siak, dan Rengat. Untuk memperkuat lini depan, Kemenhut mengirimkan pula regu Bantuan Kendali Operasi (BKO) Manggala Agni dari luar Riau, yaitu dari Daops Bukit Tempurung (Jambi), Daops Kota Jambi, dan Daops Labuhan Batu (Sumatera Utara).
Ferdian Krisnanto, Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera menyampaikan bahwa saat ini, Manggala Agni tengah berjibaku melakukan pemadaman di beberapa lokasi kritis bersama satgas kabupaten dan provinsi, diantaranya di Kelurahan Mundam (Dumai), SM Giam Siak Kecil, Desa Merbau dan Pulau Muda (Pelalawan), Desa Talang Jerinjing (Indragiri Hulu) serta wilayah Pulau Rupat (Bengkalis).
Strategi Pemadaman dan Kendala Lapangan
“Strategi awal saat ini adalah melakukan penyekatan api agar kebakaran tidak meluas, kemudian memukul dan mematikan kepala api serta mematikan sumber potensi asap utama”, ujar Ferdi.
Kendala saat ini yang dihadapi di lapangan adalah faktor keterbatasan air untuk pemadaman, seiring dengan menurunnya curah hujan yang mengakibatkan turunnya tinggi muka air atanah terutama pada wilayah gambut. Untuk mengatasi masalah tersebut, Manggala Agni dibantu oleh masyarakat dan pemerintah daerah setempat dengan alat berat untuk menggali embung air, membersihkan kanal dan memperlebar sekat.
Operasi Udara dan Modifikasi Cuaca
Selain melakukan pemadaman darat, operasi ini diperkuat oleh 1 unit Helikopter Bell 412-SP PK/DAS Kemenhut dan 2 Helikopter BNPB untuk misi patroli, waterbombing, dan evakuasi yang telah mencapai 20 jam 39 menit waktu terbang. Lebih lanjut, sebagai tindak lanjut atas SK Gubernur Riau Nomor Kpts.102/II/2026, Kemenhut telah berkoordinasi dengan BNPB dan BMKG untuk melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna mempercepat penanganan karhutla melalui hujan buatan.
"Menyikapi tren peningkatan luas karhutla dibandingkan tahun 2025, maka sinergitas dan kolaborasi kerja seluruh elemen sosial, baik Kementerian/Lembaga Pusat maupun Pemerintah Daerah, Swasta dan juga NGO, serta masyarakat setempat menjadi kunci utama dalam upaya penanggulangan karhutla," pungkas Dwi Januanto Nugroho.





