Manggala Agni, sebagai garda terdepan pengendalian karhutla memiliki kontribusi yang besar dalam penurunan emisi gas rumah kaca di Indonesia. Kementerian Kehutanan terus memperkuat peran penting Manggala Agni melalui peningkatan kapasitas untuk menjaga profesionalisme dan kompetensi Manggala Agni dalam tugas pengendalian kebakaran hutan.
Hal ini disampaikan oleh Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan, Thomas Nifinluri, dalam keynote speech mewakili Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan dalam talkshow Strengthening Capacity Building of Manggala Agni to Reduce Forest Fire and GHG Emission in Indonesia di Paviliun Indonesia di Belem, Brazil (18/11/2025).
Acara yang merupakan bagian kegiatan Conference of the Parties 30 United Nations Framework Convention on Climate Change (COP30) ini menghadirkan narasumber yaitu Israr Albar (Kasubdit Penanggulangan Kebakaran Hutan, Dit. PKH), Lara Steil (Forestry Officer for Integrated Fire Management, Forestry Division-FAO), Song Minkyung (Research Official of National Institute of Forest Science, Republic of Korea) dan Kubo Hideyuki (Chief Advisor of Community Movement Program on Forest Prevention in Indonesia-JICA).
“Talkshow ini dilaksanakan untuk membahas pengembangan kapasitas sebagai salah satu pilar utama Global Fire Management Hub,” jelas Thomas.

Thomas mengatakan bahwa demi menjaga profesionalisme dan kompetensi Manggala Agni, Indonesia selalu terbuka untuk memperkuat kerja sama antar negara dan mitra internasional salah satunya melalui pengembangan program peningkatan kapasitas.
“Pencapaian dan pembelajaran yang diperoleh dari implementasi Integrated Fire Management (IFM) dapat memberikan kontribusi yang lebih luas, tidak hanya di tingkat regional tetapi juga dalam skala global,” harap Thomas.
Dalam paparannya yang berjudul Capacity Building to Strengthen Manggala Agni in reducing GHG Emission from Forest Fire, Kasubdit Penanggulangan Kebakaran Hutan, Israr Albar, mengungkapkan bahwa Indonesia telah membentuk Brigade Pemadam Kebakaran Hutan, Manggala Agni sejak tahun 2002, yang bertugas untuk menanggulangi masalah kebakaran yang biasanya terjadi saat memasuki musim kemarau pada bulan Juni atau Juli yang banyak terjadi di Wilayah Sumatera dan Kalimantan.
“Berbagai pengembangan kapasitas untuk Manggala Agni telah dilaksanakan melalui dukungan dari mitra seperti ITTO dengan jumlah peserta sebanyak 1.307 orang, GCF REDD+ dengan jumlah peserta sebanyak 1.835 orang, JICA dengan jumlah peserta sebanyak 776 orang, dan Korea Forest Service dengan jumlah peserta sebanyak 157 orang,” sebut Israr.
“Peningkatan kapasitas bagi Manggala Agni dapat meningkatkan kecakapan dan kecepatan response dalam pengendalian karhutla, hal ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengurangan luas area terbakar dan emisi GRK dari kebakaran hutan, serta mendukung pencapaian target FOLU Net Sink 2030,” ujar Israr.
Forestry Officer for Integrated Fire Management, Forestry Division-FAO, Lara Steil, menerangkan bahwa kegiatan Global Fire Management Hub meliputi pengembangan Integrated Fire Management Assessment Tool, pengembangan knowledge products, peningkatan kapasitas, pembentukan Task Team on the Fire Early Warning Services, dan membawa implementasi IFM ke dalam kebijakan international yang lebih luas melalui UNGA DRR Resolution 2024, Kananaskis Wildfire Charter (2025) dan Call to Action – Integrated Fire Management and wildfire resilience – COP30 (2025).
Republic of Korea dan Chief Advisor of Community Movement Program on Forest Prevention in Indonesia-JICA, Kubo Hideyuki, menyampaikan kolaborasi JICA dalam pencegahan kebakaran hutan di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1995 dan saat ini Project for Community Movement Program on Forest and Land Fire Prevention sedang berlangsung di 3 provinsi yaitu Riau, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah dengan periode 4 tahun (2023 – 2027) dengan tujuan untuk mengurangi hotspot dan area terbakar di wilayah sasaran.
Research Official of National Institute of Forest Science, Song Minkyung mengatakan Kerja sama antara Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Korea Forest Service dalam rangka development of Forest and Land Fire Management System in South Sumatera telah dilaksanakan sejak tahun 2022 dan akan selesai pada akhir tahun 2026. Proyek ini bertujuan untuk mengembangkan model sistem pengendalian kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.
Berita ini termuat juga di

